Koba, CyberTerkini.Com – Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN, Dr. H. Wihaji, S.Ag., M.Pd., mengajak seluruh Tim Pendamping Keluarga (TPK) di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung untuk terus memperkuat pendampingan terhadap keluarga sebagai langkah nyata mencegah stunting sejak sebelum pernikahan hingga masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK).
Ajakan tersebut disampaikan Wihaji saat menghadiri Temu Kader TPK dan Pendamping Keluarga Risiko Stunting serta Literasi Keuangan dalam rangka mendukung Program GENTING (Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting) yang berlangsung di Yayasan Arraisyah Alhams Center, Koba, Kabupaten Bangka Tengah, Rabu (5/8/2026).
Mengawali sambutannya, Menteri Wihaji menyampaikan salam dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kepada seluruh masyarakat Bangka Belitung, khususnya para kader TPK yang selama ini menjadi ujung tombak pendampingan keluarga di lapangan.
“Setiap saya melakukan kunjungan ke daerah, Bapak Presiden selalu berpesan agar menyampaikan salam kepada masyarakat. Beliau juga meminta doa agar diberikan kesehatan dan kekuatan dalam memimpin bangsa ini,” kata Wihaji.

Ia menjelaskan, sebagai Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga sekaligus Kepala BKKBN, dirinya mendapat amanah untuk memastikan program pembangunan keluarga berjalan optimal, terutama dalam menciptakan generasi yang sehat, berkualitas, dan bebas stunting.
Menurut Wihaji, pencegahan stunting tidak dapat dilakukan ketika anak sudah lahir saja, melainkan harus dimulai sejak calon pengantin. Karena itu, peran Tim Pendamping Keluarga sangat penting dalam memberikan edukasi dan pendampingan kepada pasangan yang akan menikah.
“Calon pengantin perlu didampingi agar menikah pada usia yang ideal, minimal 19 tahun. Persiapan kesehatan sejak awal akan sangat menentukan lahirnya anak-anak yang sehat dan terhindar dari stunting,” ujarnya.

Ia menegaskan, tugas TPK tidak hanya mendampingi calon pengantin, tetapi juga melakukan pendampingan kepada ibu hamil hingga memastikan anak memperoleh pengasuhan dan pemenuhan gizi yang baik selama masa pertumbuhan.
“TPK memiliki peran yang luar biasa. Mereka mendampingi calon pengantin, ibu hamil, ibu pasca melahirkan, hingga keluarga yang memiliki balita. Pendampingan ini menjadi kunci keberhasilan dalam menurunkan angka stunting,” katanya.
Wihaji juga mengingatkan pentingnya perhatian terhadap masa 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) yang merupakan periode emas pertumbuhan anak. Pada masa tersebut, pemenuhan gizi, pemeriksaan kesehatan secara rutin, serta pola asuh yang baik akan menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.
“Masa seribu hari pertama kehidupan harus benar-benar diperhatikan. Di situlah fondasi kesehatan dan kecerdasan anak dibentuk. Kalau periode ini terjaga dengan baik, maka peluang anak tumbuh sehat dan bebas stunting akan semakin besar,” tegasnya.
Selain membahas upaya percepatan penurunan stunting, kegiatan tersebut juga diisi dengan edukasi literasi keuangan bagi para pendamping keluarga. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengelola keuangan sehingga tercipta keluarga yang lebih mandiri dan sejahtera.
Melalui kegiatan ini, Menteri Wihaji berharap seluruh kader TPK semakin termotivasi menjalankan tugas di tengah masyarakat. Ia juga mengajak seluruh elemen pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan masyarakat luas untuk mendukung Program GENTING sebagai gerakan bersama dalam mewujudkan generasi Indonesia yang sehat, unggul, dan bebas stunting menuju Indonesia Emas 2045.






